Honda Absolute Revo 110 resmi dilaunching Jumat (30/1) lalu di Senayan, Jakarta Pusat. Menyasar pasar murah sebagai pengganti Revo lama yang sudah tidak diproduksi lagi. Di Jakarta dijual Rp 11,6 juta (Spoke atau jari-jari) dan Rp 13,5 (CW dan warna tri tone).

Mengusung mesin dan rangka yang sama dengan Honda Blade 110. Makanya boleh dibilang versi murahnya Balde 110. Supaya nggak penasaran, MOTOR Plus langsung jajal dan menilai secara desain Revo 110 sesaat setelah launching.

Ada beberapa poin yang bisa dibandingkan dengan Blade 110R. Salah satunya adalah fitur.

RIDING IMPRESSION

Penarasan langsung mau geber New Honda Revo 110? Entar dulu. Namanya juga motor baru. Semua fitur dan kelebihan teknologi di motor mesti dipelajari. Jangan sampai Bruer en Sus main putar gas, tapi gaptek saat di atas tunggangan. Wuuuuu!

Memang sih, beda dari generasi Revo sebelumnya. Selain desain bodi lebih smart jika dilihat dari lekukan yang lebih slim dan aerodinamis. Mesinnya cuy.., naik 10 cc dari Revo sebelumnya yang cuma mentok di angka 100 cc kalau dioversize cepek (100).

Tak cuma tambah kapasitas. Mesin 110 cc dari bore x stroke yaitu 50 mm x 55,6 mm didukung teknologi baru. Persis seperti di Blade 110R. Yaitu ada roller rocker-arm pendukung kerja kem, piston berprofil maksimalkan pelumasan, pergeseran offset cylinder agar piston minim gesek. Serta perubahan komponen kopling manual yang andalkan per diafragma.

“Teknologi di mesin dan sasis mirip Blade 110R. Cuma yang ini versi fashionable-nya. Tinggal konsumen mau pilih mana. Dan dari semua teknologi itu, Revo 110 dilebeli EFT alias Efficient & Low Friction Tecnology,” tegas Handy Hariko, Deputy General Manager Technical Service, PT Astra Honda Motor (AHM).

Artinya performa Revo 110 tak bisa dianggap remeh. Terlebih saat sobat pertama kali akan menungganginya. Dan itu dibuktikan Em-Plus saat pertama diberi kesempatan menjajalnya di areal parkir Gelora Bung Karno (30/1) kemarin.

Di atas Revo 110, dengan postur tubuh sekitar 162 cm ujung jari kaki sedikit jinjit. Tapi posisi pengendara tetap nyaman. Begitu juga saat menatap menu di panel spidometer. Tampak jelas lantaran posisinya lebih tegak juga banyak perubahan posisi panel.

Di bagian lain seperti tombol sakelar, juga sangat lembut lantaran dimensinya agak besar dan mudah dioperasionalkan. Itu lantaran jarak genggaman jari tangan di grip dengan sakelar mudah dijangkau.

Tahap berikutnya memfungsikan kunci kontak sebagai syarat menghidupkan mesin pakai tombol starter. Setelah 1 menit, mesin minim getaran saat langsam pun dioperasionalkan dengan menginjak persneling ke posisi gigi 1.

Em-Plus sontak dibuatnya. Apalagi saat tanpa sengaja grip gas dipelintir sedikit. Wah.., akselarasinya oke juga. Revo 110 lantas digeber di trek yang sudah disediakan.

Sayang, tenaga putaran menengah ke atas agak tertahan khususnya di kecepatan 40 km/jam di posisi gigi 2 mau ke 3. Tapi mungkin atasnya bisa lebih sip jika trek lurus yang tersedia lebih panjang lagi. Yah.., namanya juga riding impresion. Ya, macam itu rasanya.

Cuma yang bikin Em-Plus tercengang, key shutter Revo 110 tertutup otomatis. Maksudnya, begitu kunci kontak dicabut, lempengan pengaman lubang kunci langsung tertutup rapat.

TES BENSIN

Pengujian bahan bakar Absolute Revo 110 belum mendekati akurasi. Lantaran, lokasi pengetesan kurang memenuhi syarat. Tempatnya di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, Revo 110 hanya maksimal digas sampai gigi 3.

Pengujian dilakukan crew Em-Plus yang beratnya 60 kg dan tinggi 162 cm. Kecepatan rata-rata 40 km/jam sampai 50 km/jam. Panel km menunjukan angka 113,6 km sebelum Revo 110 dipakai.

Pengujian menggunakan tabung infus dengan kapasitas bensin yang dimasukan 100 cc. Revo 110 digunakan sampai bensin diinfus kering alias habis. Total jarak tempuh sampai bensin habis di tabung infus 117,5 km.

Berarti 117,5 km dikurangi 113,6 km. Jarak tempuh tes 3,9 km. Artinya 100 cc bensin habis untuk 3,9 km. Kalau 1 liter bensin dengan penggunaan yang sama seperti crew Em-Plus, Revo 110 bisa dipakai sampai 39 km. “Ingat lho mesin hanya dipakai maksimal gigi 3. Belum lagi faktor lain,” bilang Handy Hariko lagi.

Bandingkan hasil uji bensin Revo 110 dengan Blade 110R. Seperti di edisi 512 yang dijajal dengan bobot pengendara 65 kg. Hasilnya 1 liter bensin di Blade sanggup dipakai sampai 47,5.

DESAIN DINAMIS ANAK MUDA

Dari segi desain, Em-Plus mengamati beberapa poin penting. Di sudut estetika, Revo 110 cukup mewakili kesan dinamis khas anak muda dengan bodywork minimalis dan pilihan warna sesuai tren.

Sisi lain desain akan menyangkut beberapa aspek, yakni aerodinamika yang memperhatikan gerak alir udara (streamline), comfortability (kenyamanan berkendara), safety riding dan kemudahan pemakaian (easy handling dan user friendly) .

“Dalam istilah dunia desain produk kaitannya dengan kenyamanan antara manusia dan peralatan,” jelas Drs. Edi Setiadi Putera, dosen Institut Teknologi Nasional yang juga juri kehormatan di ajang MOTOR Plus Award 2008.

Saat menjajal kali pertama Revo 110 cc, kamu tak menghadapi masalah berarti untuk comfortability, easy handling, dan user freindly. Evaluasi justru pada fitur spidometer. Masih sama dengan varian Honda lainnya, Revo 110 tak memiliki warning bahaya di spidometer. Warna dari kecepatan nol sampai maksimum tetap sama. “Di sisi ergonomi hal ini kurang ideal,” jelas Edi.

Yuk simak fitur spido khususnya petunjuk bahan bakar dari E (Empty) ke F (Full). Dari sisi desain, dinilai kurang ideal. Secara umum, rider terbiasa membaca dari kiri ke kanan (searah jarum jam).

Logikanya, petunjuk F seharusnya ada di kiri dan E ada di kanan mengingat peruntukkannya bahwa F (kondisi aman, bensin penuh) dan E (kondisi tak aman, bensin kosong). Nah, akan menjadi makin informatif jika rider diberi ‘warning’ E ada di sebelah kanan, karena bensin semakin berkurang saat pemakaian.

Kelebihan fitur lainnya memang ada. Petunjuk pemindahan gigi dari bawah ke atas sudah sesuai kaidah ergonomi. Friendly user ditunjukkan Revo 110 lewat pemakaian bahan fosfor di kunci kontak yang menyala saat gelap. 110R(kiri)

SPESIFIKASI TEKNIK

Absolute Revo 110
Panjang X lebar X tinggi 1.925 x 709 x 1.084 mm
Jarak sumbu roda 1.221 mm
Jarak terendah ke tanah 147 mm
Berat kosong 98 kg (CW), 97 kg (Spoke)
Ukuran ban depan 70/90-17 M/C 38P
Ukuran ban belakang 80/90 – 17 M/C 44P
Kapasitas tangki bahan bakar 3,7 liter
Tipe mesin 4 langkah, SOHC, pendinginan udara
Diameter x langkah 50 x 55,6 mm
Volume silinder 109,1 cc
Perbandingan kompresi 9,0:1
Daya maksimum 8,46 PS/7.500 rpm
Torsi maksimum 0,86 kgf.m/5.500 rpm
Kapasitas oli mesin 0,8 liter

Blade 110R
Panjang X lebar X tinggi 1855 x 709 x 1071 mm
Jarak sumbu roda 1.221 mm
Jarak terendah ke tanah 147 mm
Berat kosong 96,8 kg
Ukuran ban depan 70/90-17 M/C 38P
Ukuran ban belakang 80/90 – 17 M/C 44P
Kapasitas tangki bahan bakar 3,7 liter
Tipe mesin 4 langkah, SOHC, pendinginan udara
Diameter x langkah 50 x 55,6 mm
Volume silinder cc 109,1 cc
Perbandingan kompresi 9,0:1
Daya maksimum 8,46 PS/7.500 rpm
Torsi maksimum 0,86 kgf.m/5.500 rpm
Kapasitas oli mesin 0,8 liter

Penulis/Foto : KR15, Niko, Isf@n/Endro